Jumat, 29 November 2013

Hari-hari Mahasiswa Rantau

11/30/2013


      Kita ketahui bahwa kita berada di negri orang, dan apalagi kita tidak mempunyai orang-orang yang kita kenal, kita hanya bisa mencari orang atau temen baru supaya kita hidup tidak dikatan individu, kehidupan kita harus dijalani dengan kehidupan sosial, dimana kita hidup saling membutuhkan.


      Sebagai Mahasiswa Rantau, kita harus menjaga diri kita,apalagi daerah yang kita hunyi itu daerah yang sangat bahaya dimana banyak kejadian-kejadian yang bisa merusak diri kita sendiri, kita harus ikuti adat di sini, pepatah Minang mengatakan : Dima bumi dipijak, disinan langik di junjuang, bahasa indonesia nya: Dimana bumi kita pijak, disitu langit di junjung.



     Kita tahu uang bukan hal segalanya, tapi disini, kita sebagai Mahasiswa tidak bisa terus menerus menerima kiriman dari orang tua kita, kita tidak tahu dari mana asal uang yang kita gunakan di setiap hari itu, disini kita sebagai anak rantau harus paham keadaan Ekonomi orang tua kita yang jauh disana, maka dari itu kita ada kalanya bisa mencari kebutuhan kita sendiri setidaknya tetapi kita juga fokus pada kuliah kita juga, karena kita sudah susah payah mencari ilmu jauh-jauh dan harus membuahkan hasil yang sangat bagus tentunya dan orang tua kita juga akan senang kepada aanak nya sendiri dan hasil usaha orang tua kita juga tidk sia-sia.



Setiap harinya Mahasiswa rantau memiliki problem yang begittu banyak dan dengan dirinya sendiri, faktor menjalani pendidikan di negri orang gak masalah, tapi yang sering jadi masalah yaitu faktor kebutuhanya, faktor inilah yang sering kali menjadi masalah bagi sebagian Mahasiswa rantau. Disini sedikit permasalahanya, mari kita liat : 



  1. Kehabisan Uang. Inilah yang sering dirasakan oleh para mahasiswa perantauan. Kehabisan uang.  Kebutuhan akan begitu banyak keperluan menyebabkan para mahasiswa tidak dapat mengontrol pengeluarannya. Hal ini disebabkan karena pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan. Tapi biasanya semakin lama, kehabisan akan uang kebutuhan hidup ini terjadi di tahun-tahun awal. Setelahnya mahasiswa menjadi terbiasa, dan dapat mengontrol pengeluarannya. 




2. Malas pergi ke kampus sudah menjadi hal yang wajar bagi mahasiswa perantauan. Biasanya terjadi pada mahasiswa semester pertengahan. Mahasiswa semester awal masih jarang karena mereka masih ingin menikmati masa-masa awal kuliah. Mahasiswa semester akhir sedang sibuk-sibuk nya dengan skripsi. Penyebabnya bisa saja karena memang mahasiswa itu sudah malas pada dasarnya, bahkan untuk kuliah saja dia malas. Ada juga karena mahasiswa tersebut terlalu sibuk dengan bisnis yang sedang dilakoninya,  sehingga membuat perhatian akan kuliah menjad terpecah. Lalu ada juga yang karena sibuk bekerja. Dan masih banyak lagi.




3. Cucian numpuk di kamar. Disebabkan karena malas, capek, ga ada waktu, dsb.  Sebenarnya hal ini sudah jarang terjadi sekarang. Dikarenakan di era modern ini, banyak warung laundy yang sudah buka. Sehingga mahasiswa menjadi lebih mudah untuk mencuci pakaian kotornya. Tinggal taruh di warung laundry, ambil di kemudian hari, jadi deh pakaian jadi bersih.




4. Uang kos nunggak. Tidak semua yang mengalaminya, hanya beberapa saja. Hal ini disebabkan karena uang yang seharusnya dipakai untuk membayar uang kos, dipakai untuk keperluan kebutuhan hidup. Ada juga yang karena memang kesulitan uang. Kembali kepada mahasiswanya masing-masing.




5. Mie menjadi makanan pokok di akhir bulan. Pastinya ini tidak asing lagi. Di akhir bulan adalah masa-masanya mahasiswa kehabisan uang untuk makan. Untuk menyiasatinya, dari pada mati kelaparan maka nasi yang harusnya menjadi makanan pokok berganti menjadi mie. Memang mie adalah makanan yang sangat membantu dimana bila terjadi situasi seperti ini.




6. Shock Culture adalah hal yang lumrah yang di alami oleh semua mahasiswa perantuan. Budaya baru yang dikenalnya yang berasal dari kota dimana dia merantau merupakan hal yang baru. Budaya yang ada di kota perantauan tidak sama dengan budaya yang berasal dari kota asal. Biasanya mahasiswa perantauan awalnya kaget dengan budaya baru yang dikenalnya. Sehingga mereka merasa sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Tapi lama kelamaan, shock culture ini semakin lama semakin hilang. Karena sudah megnenal kebudayaan baru secara keseluruhan.




7. Homesick sering dialami oleh mahasiswa yang baru pertamakali merantau ke luar kota. Jauhnya keberadaan dari keluarga, teman-teman, dan suasana kota asal menjadi penyebab utama terjadinya homesick. Hal ini tentu saja dapat memberi pengaruh terhadap emosi dalam menjalani aktivitas akademis dan kehidupan sehari-hari. Tapi, tenang saja biasanya homesick hanya terjadi pada mahasiswa semester awal. Setelahnya akan jarang terjadi karena sudah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mendapat teman-teman yang baru juga.



Sebenanya masih banyak lagi, tapi kalo mau menambahkan silahkan coment

aja.. http://liferantau.blogspot.com/

Rabu, 27 November 2013

Life Anak Rantau

Hari ini kita telah menjadi seorang mahasiswa, seseorang yang menjalani pendidikan yang sangat tinggi dimulai dari dasar,dengan susah payah dan usaha untuk mencapai sebuah tujuan hidup, tapi seorang mahasiswa itu tidaklah semua yang sanggup membiayai kuliah nya sendiri,dan ada juga yang datang dari berbagai penjuru wilayah yang ada,contoh nya saya, yang sedang menjalani pengalian ilmu di suatu daerah,yaitu Aceh utara,dimana suatu wilayah seperti sumatra barat menyebut sebagai seorang perantau yang sedang menggali ilmu pengetahuan nya.

Rantau berasal dari bahasa dan budaya Minangkabau,www.liferantau.blogspot.comyang artinya ialah seorang yang sedang menjalani aktivitas di luar daerah dengan mencari penghasilan di luar daerah juga.

Banyak fenomenal yang terjadi, Rantau banyak menjadi tradisi di daerah sumatra barat,seorang anak laki-laki bila sudah menginjak umur 17 tahun sudah di dorong untuk pegi merantau apa bila tidak bisa melanjutkan pendidikanya.

Saya seorang mahasiswa terkadang kita juga susah tinggal di daerah yang tidak begitu kita kenal, dan kita juga tidak akan terbiasa melakukan hal yang kita buat di daerah yang kita kurang ketahui dengan adat yang berbeda,bahasa, dan lainya yang susah kita pahami.